Semangat! Man jadda Wa Jadaa!!

Rabu, 11 April 2012

Sekilas Mengenal Pedagogik


Sejarah Pedagogik
Dalam pembelajaran Anak Usia Dini ataupun anak kecil sering dikenal dengan keilmuan pedagogik. Pedagogik berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu paedos yang berarti anak dan agogos yang berarti mengantar, membimbing, atau memimpin. Pedagogik merupakan ilmu yang mengkaji bagaimana membimbing anak, cara menghadapi anak didik, apa yang tugas pendidik dan tujuan mendidik anak itu sendiri. Prof. Dr. J. Hoogveld salah satu tokoh pendidikan di Belanda mengungkapkan bahwa pedagogik adalah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak kearah tujuan tertentu agar ia mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya. Istilah pedagogik dikaitkan dengan 2 istilah lain, yakni pedagogia dan pedagogi. Namun ketiganya memiliki perbedaan arti namun memiliki tujuan yang sama yakni ‘anak’. Pedagogi terbentuk dari kata paedagogos yang berarti ‘Orang’, pada zaman Yunani kuno Paedagogos adalah orang (pelayan atau pembantu) yang bertugas mengantar dan menjemput anak majikannya ke sekolah selain itu paedagogos juga bertugas membimbing anak majikannya. Namun istilah ‘pelayan atau pembantu’ tersebut mengalami pergeseran makna menjadi ‘pendidik atau ahli didik’. Sedangkan Pedagogia (Paedagogia) berarti pergaulan dengan anak-anak. Pedadogik memiliki peranan penting dalam praktik pendidikan dengan alasan bahwa pedagogik merupakan landasan bagi praktik pendidikan anak, pedagogik dipercaya menjadi kriteria keberhasilan praktik pendidikan anak.

Kegunaan Pedagogik bagi Pendidik
Kegunaan pedagogik bagi pendidik diantaranya :
1.        Untuk memahami fenomena pendidikan (situasi pendidikan) secara sistematis
2.        Memberikan petunjuk tentang apa yang seharusnya dilaksanakan oleh pendidik
3.        Menghindari terjadinya kesalahan-kesalahan dalam praktik mendidik anak. Kesalahan dalam pelaksanaan pendidikan, yaitu kesalahan konseptual, kesalahan teknis, dan kesalahan yang bersumber pada kepribadian pendidik. Kesalahan konseptual yaitu kesalahan yang terjadi karena pendidik kurang memahami teori pendidikan, contohnya karena ingin terlihat berwibawa seorang guru berusaha agar siswa menjadi takut padanya. Selain itu pendidik menganggap dirinya ‘penguasa’ yang dapat membentuk peserta didik seenaknya. Kesalahan teknis yakni kesalahan yang disebabkan oleh kurangya keterampilan pendidik dalam praktik. Contohnya : Orang tua yang selalu mengabulkan permintaan anak, walaupun hal yang diminta anaknya itu membahayakan perkembangan kepribadian anaknya. Kesalahan yang bersumber pada struktur kepribadian pendidik yaitu sikap kasar dan tidak mau menghargai pendapat peserta didik.
4.        Mengenal diri sendiri dan melakukan koreksi diri.

Struktur Pedagogik
Pedagogik dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu pedagogik teoritis dan pedagogik praktis. Menurut M.J. Langeveld Madjid Noor dan J.M. Daniel (1987 : 27) dalam Tatang Syaripudin dan Kurniasih (2010) struktur pedagogik dibagi menjadi :
1.        Pedagogik teoritis. Pedagogik teoritis terdiri dari pedagogik sistematis dan pedagogik historis. Pedagogik historis terdiri dari sejarah pendidikan (sejarah teori pendidikan dan sejarah praktik pendidikan) dan pedagogik komparatif.
2.        Pedagogik praktis, terdiri atas pedagogik dikeluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Pandangan-pandangan Mengenai Pedagogik
1.        Aliran nativisme
Tokoh aliran ini adalah Schoupenhaur seorang filosof dari Jerman yang berpendapat bahwa : “The world is my idea, the world like a man is trough will and trough idea”. Aliran ini berpandangan bahwa anak yang baru lahir membawa bakat, kesanggupan, dan sifat-sifat tertentu. Pandangan ini kurang percaya bahwa pendidikan akan mampu mengubah atau mengarahkan tingkah laku seseorang. Perkembangan manusia bergantung pada bakat yang dibawanya sejak lahir. Implikasinya terhadap pendidikan yaitu anak diberikan kebebasan belajar sesuai dengan bakatnya.
2.        Aliran empirisme
Tokoh dalam aliran ini adalah John Locke dan J.B. Watson yang berpendapat bahwa anak dilahirkan kedunia dalam keadaan bersih ibarat papan tulis yang masih kosong. Pengalaman belajar anak didapatkan dari lingkungannya. Peranan pendidik yaitu menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima anak sebagai pengalaman belajar.
3.        Aliran konvergensi
Tokoh aliran ini adalah William Stern. Asumsinya adalah bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor bakat yang merupakan bawaan/turunan (heredity) maupun dari pengalaman. Implikasinya adalah bahwa dalam pendidikan anak harus memperhatikan faktor bakat dan pengalaman belajar yang didapatkan si anak.
4.        Aliran naturalisme
Aliran ini dipelopori oleh J.J. Rousseau seorang filosof dari Perancis. Ia berpandangan bahwa semua anak dilahirkan dengan pembawaan baik, dan pembawaan baik anak tersebut akan menjadi rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan. Ia mengajukan konsep ‘pendidikan alam’ yang berarti bahwa anak hendaklah dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri menurut alamnya, manusia atau masyarakat jangan mencampurinya. Implikasinya adalah dalam mengembangkan anak didik dilaksanakan dengan menyerahkannya pada alam atau berjalan apa adanya agar pembawaan yang baik tidak menjadi rusak oleh tangan manusia.

REFERENSI :
Syaripudin, Tatang dan Kurniasih. (2010). Pedagogik Teoritis Sistematis. Bandung : Percikan Ilmu.
Uyoh Sadulloh, dkk. (2007). Pedagogik. Bandung : Cipta Utama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar