Rabu, 11 April 2012

Disiplin Dan Implementasinya dalam Ilmu Pendidikan Luar Sekolah


A.      Pengertian Disiplin
Salladien (1995), disiplin berasal dari bahasa latin diciplina yang diambil dari discere yang maknanya belajar. Namun istilah ini bekembang menjadi instruksi hukuman dalam pengertian mendidik, kepatuhan akan morma, dan peraturan termasuk tata tertib yang umum berlaku dimasyarakat dan bagi yang melanggarnya akan mendapat sanksi yang berlaku.
Ekosiswayo & Rachman (2000 : 97) : disiplin adalah pernyataan sikap mental individu maupun masyarakat yang mencerminkan rasa ketaatan, kepatuhan, yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan tugas dan kewajiban dalam rangka pencapaian tujuan.
Disiplin adalah proses pelatihan pikiran dan karakter, yang meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri, dan menumbuhkan ketaatan atau kepatuhan terhadap tata tertib atau nilai tertentu (Andrias Harefa, menjadi manusia pembelajar).
Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) (1997:11), makna kata disiplin dapat dipahami dalam kaitannya dengan latihan yang memperkuat, koreksi dan sanksi, kendali atau terciptanya ketertiban dan keteraturan dan sistem aturan tata laku.
Johar Permana, Nursisto (1986:14), Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dan serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban.

B.       Fungsi Disiplin
Fungsi disiplin menurut Tulus Tu’u (2004:38) adalah:
1.         Menata kehidupan bersama
Disiplin berguna untuk menyadarkan seseorang bahwa dirinya perlu menghargai orang lain dengan cara menaati dan mematuhi peraturan yang berlaku, sehingga tidak akan merugikan pihak lain dan hubungan dengan sesama menjadi baik dan lancar.
2.         Membangun kepribadian
Pertumbuhan kepribadian seseorang biasanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Disiplin yang diterapkan di masing-masing lingkungan tersebut memberi dampak bagi pertumbuhan kepribadian yang baik. Oleh karena itu, dengan disiplin seseorang akan terbiasa mengikuti , mematuhi aturan yang berlaku dan kebiasaan itu lama kelamaan masuk ke dalam dirinya serta berperan dalam membangun kepribadian yang baik.
3.         Melatih kepribadian
Sikap, perilaku dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin terbentuk melalui latihan. Demikian juga dengan kepribadian yang tertib, teratur dan patuh perlu dibiasakan dan dilatih.
4.         Pemaksaan
Disiplin dapat terjadi karena adanya penaksaan dan tekanan dari luar, misalnya ketika seorang siswa yang kurang disiplin masuk ke satu sekolah yang berdisiplin baik, terpaksa harus mematuhi tata tertib yang ada di sekolah tersebut.
5.         Hukuman
Tata tertib biasanya berisi hal-hal positif dan sanksi atau hukuman bagi yang melanggar tata tertib tersebut.
6.         Menciptakan lingkungan yang kondusif
Disiplin sekolah berfungsi mendukung terlaksananya proses dan kegiatan pendidikan agar berjalan lancar dan memberi pengaruh bagi terciptanya sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran.

C.      Macam – macam Disiplin
1.         Disiplin preventif
Disiplin preventif, yakni upaya menggerakkan siswa mengikuti dan mematuhi peraturan yang berlaku. Dengan hal itu pula, siswa berdisiplin dan dapat memelihara dirinya terhadap peraturan yang ada.
2.         Disiplin korektif
Disiplin korektif, yakni upaya mengarahkan siswa untuk tetap mematuhi peraturan. Bagi yang melanggar diberi sanksi untuk memberi pelajaran dan memperbaiki dirinya sehingga memelihara dan mengikuti aturan yang ada.
Disiplin dalam proses pendidikan dan pembelajaran mengajarkan:
a.         Rasa hormat terhadap otoritas/ kewenangan
b.         Menanamkan kerja sama
c.         Kebutuhan untuk berorganisasi
d.        Rasa hormat terhadap orang lain
e.         Kebutuhan untuk melakukan hal yang tidak menyenangkan
f.          Memperkenalkan contoh perilaku tidak disiplin
Menurut Arikunto (1990:137) macam-macam disiplin ditunjukkan dengan tiga perilaku yaitu:
a)         Perilaku kedisiplinan di dalam kelas,
b)        Perilaku kedisiplinan di luar kelas di lingkungan sekolah,
c)         Perilaku kedisiplinan di rumah.
Sedangkan Sofchah Sulistyowati (2001:3) menyebutkan agar seorang pelajar dapat belajar dengan baik ia harus bersikap disiplin, terutama disiplin dalam hal-hal sebagai berikut:
a.         Disiplin dalam menepati jadwal belajar.
b.         Disiplin dalam mengatasi semua godaan yang akan menunda-nunda waktu belajar.
c.         Disiplin terhadap diri sendiri untuk dapat menumbuhkan kemauan dan semangat belajar baik di sekolah seperti menaati tata tertib, maupun disiplin di rumah seperti teratur dalam belajar.
d.        Disiplin dalam menjaga kondisi fisik agar selalu sehat dan fit dengan cara makan yang teratur dan bergizi serta berolahraga secara teratur.

D.      Pelanggaran Disiplin (Indisiplin)
1.         Latar belakang pelanggaran disiplin :
Disebabkan oleh 2 faktor yaitu dari dalam diri siswa itu sendiri dan dari luar diri siswa.
a.         Faktor dari dalam diri siswa antara lain karena mereka tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar atau mengerjakan tugas – tugas sekolah, sulit menangkap pelajaran, malas belajar, bosan dalam mengikuti pelajaran, sulit memahami pelajaran, kesulitan belajar sendiri dirumah, dan merasa kesulitan mengatur waktu.
b.        Faktor dari luar antara lain dari sekolah dan keluarga, dari sekolah misalnya : takut dimarahi guru piket/wali kelas/kepsek karena terlambat datang kesekolah, pintu pagar sekolah sudah ditutup sehingga ingin membolos dan takut dimarahi oleh guru karena tidak mengerjakan tugas dan malu pada teman sekelas. Dari keluarga : dirumah tidak ada yang membantu bila mengalami kesulitan, kurang perhatian orang tua, suasana tidak menyenangkan, dan broken home.
Brown dan Brown (1973;115)mengelompokkan beberapa penyebab perilaku siswa yang indisiplin, sebagai berikut :
1.        Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh guru
2.        Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh sekolah; kondisi sekolah yang kurang menyenangkan, kurang teratur, dan lain-lain dapat menyebabkan perilaku yang kurang atau tidak disiplin.
3.        Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh siswa , siswa yang berasal dari keluarga yang broken home.
4.        Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh kurikulum, kurikulum yang tidak terlalu kaku, tidak atau kurang fleksibel, terlalu dipaksakan dan lain-lain bisa menimbulkan perilaku yang tidak disiplin, dalam proses belajar mengajar pada khususnya dan dalam proses pendidikan pada umumnya.

2.         Sumber pelanggaran disiplin
Menurut Ekosiswoyo dan Rachman (2000:100-105), contoh-contoh sumber pelanggaran disiplin antara lain:
Dari sekolah, contohnya:
1)        Tipe kepemimpinan guru atau sekolah yang otoriter yang senantiasa mendiktekan kehendaknya tanpa memperhatikan kedaulatan siswa. Perbuatan seperti itu mengakibatkan siswa menjadi berpura-pura patuh, apatis atau sebaliknya. Hal itu akan menjadikan siswa agresif, yaitu ingin berontak terhadap kekangan dan perlakuan yang tidak manusiawi yang mereka terima.
2)        Guru yang membiarkan siswa berbuat salah, lebih mementingkan mata pelajaran daripada siswanya.
3)        Lingkungan sekolah seperti: hari-hari pertama dan hari-hari akhir sekolah (akan libur atau sesudah libur), pergantian pelajaran, pergantian guru, jadwal yang kaku atau jadwal aktivitas sekolah yang kurang cermat, suasana yang gaduh, dll
Dari keluarga, contohnya:
1)        Lingkungan rumah atau keluarga, seperti kurang perhatian, ketidak teraturan, pertengkaran, masa bodoh, tekanan, dan sibuk urusannya masing-masing.
2)        Lingkungan atau situasi tempat tinggal, seperti lingkungan kriminal, lingkungan berisik, dan lingkungan minuman keras.

Sehubungan dengan permasalahan di atas, seorang guru harus mampu menumbuhkan disiplin dalam diri siswa, terutama disiplin diri. Dalam kaitan ini, guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut :
1.        Membantu siswa mengembangkan pola perilaku untuk dirinya; setiap siswa berasal dari latar belakang yang berbeda, mempunyai karakteristik yang berbeda dan kemampuan yang berbeda pula, dalam kaitan ini guru harus mampu melayani berbagai perbedaan tersebut agar setiap siswa dapat menemukan jati dirinya dan mengembangkan dirinya secara optimal.
2.        Membantu siswa meningkatkan standar prilakunya karena siswa berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, jelas mereka akan memiliki standard prilaku tinggi, bahkan ada yang mempunyai standard prilaku yang sangat rendah. Hal tersebut harus dapat diantisipasi oleh setiap guru dan berusaha meningkatkannya, baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam pergaulan pada umumnya.
3.        Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat; di setiap sekolah terdapat aturan-aturan umum. Baik aturan-aturan khusus maupun aturan umum. Perturan-peraturan tersebut harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, agar tidak terjadi pelanggaran.

E.       Pentingnya Disiplin
Brown dan Brown (1973;115) mengemukakan pula tentang pentingnya disiplin dalam proses pendidikan dan pembelajaran untuk mengajarkan hal-hal sebagai berikut :
1.         Rasa hormat terhadap otoritas/ kewenangan; disiplin akan menyadarkan setiap siswa tentang kedudukannya, baik di kelas maupun di luar kelas, misalnya kedudukannya sebagai siswa yang harus hormat terhadap guru dan kepala sekolah.
2.         Upaya untuk menanamkan kerja sama; disiplin dalam proses belajar mengajar dapat dijadikan sebagai upaya untuk menanamkan kerjasama, baik antara siswa, siswa dengan guru, maupun siswa dengan lingkungannya.
3.         Kebutuhan untuk berorganisasi; disiplin dapat dijadikan sebagai upaya untuk menanamkan dalam diri setiap siswa mengenai kebutuhan berorganisasi.
4.         Rasa hormat terhadap orang lain; dengan ada dan dijunjung tingginya disiplin dalam proses belajar mengajar, setiap siswa akan tahu dan memahami tentang hak dan kewajibannya, serta akan menghormati dan menghargai hak dan kewajiban orang lain.
5.         Kebutuhan untuk melakukan hal yang tidak menyenangkan; dalam kehidupan selalu dijumpai hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Melalui disiplin siswa dipersiapkan untuk mampu menghadapi hal-hal yang kurang atau tidak menyenangkan dalam kehidupan pada umumnya dan dalam proses belajar mengajar pada khususnya.
6.         Memperkenalkan contoh perilaku tidak disiplin; dengan memberikan contoh perilaku yang tidak disiplin diharapkan siswa dapat menghindarinya atau dapat membedakan mana perilaku disiplin dan yang tidak disiplin.
Menurut Maman Rachman dalam Tu’u (2004:35) pentingnya disiplin
bagi para siswa sebagai berikut:
a.         Memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang.
b.         Membantu siswa memahami dan meyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
c.         Cara menyelesaikan tuntutan yang ingin ditunjukkan peserta didik terhadap lingkungannya.
d.        Untuk mengatur keseimbangan keinginan individu satu dengan individu
lainnya.
e.         Menjauhi siswa melakukan hal-hal yang dilarang sekolah.
f.          Mendorong siswa melakukan hal-hal yang baik dan benar.
g.         Peserta didik belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, positif dan bermanfaat baginya dan lingkungannya.
h.         Kebiasaan baik itu menyebabkan ketenangan jiwanya dan lingkungannya.

F.       Prinsip Pelaksanaan Disiplin
Secara umum, penegakan disiplin perlu memperhatikan:
1.         Egaliter, berlaku untuk semua, tidak diskriminasi. Misalnya tidak boleh merokok di sekolah (bagi siapapun yang berada di lingkungan sekolah)
2.         Disiplin ditegakkan tanpa menunjukkan kelemahan, tanpa menunjukkan amarah dan kebencian. Bahkan kalau perlu dengan kelembutan agar para pelanggar kedisiplinan menyadari bahwa disiplin itu diterapkan demi kebaikan dan kemajuan dirinya.
3.         Tegas, adil, konsisten.
4.         Kekerasan bukan alasan bagi penegakan disiplin.
5.         Tidak ada hukuman atau sangsi yang sangat otoriter, yang ada adalah bentuk tanggungjawab atas apa yang telah dilakukan siswa. Sehingga bentuknya edukatif.
Dalam disiplin, ada tiga unsur yang penting, yaitu hukum atau peraturan yang berfungsi sebagai pedoman penilaian, sanksi atau hukuman bagi pelanggaran peraturan itu, dan hadiah untuk perilaku atau usaha yang baik (Dr. Martin Leman, disiplin anak:2000).

G.          Cara Menegakkan Disiplin
Menurut Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) (1997:15), disiplin dapat terjadi dengan cara:
a.         Disiplin tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuhkan, dikembangkan dan diterapkan dalam semua aspek menerapkan sanksi serta dengan bentuk ganjaran dan hukuman.
b.         Disiplin seseorang adalah produk sosialisasi sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya, terutama lingkungan sosial. Oleh karena itu, pembentukan disiplin tunduk pada kaidah-kaidah proses belajar.
c.         Dalam membentuk disiplin, ada pihak yang memiliki kekuasaan lebih besar, sehingga mampu mempengaruhi tingkah laku pihak lain ke arah tingkah laku yang diinginkannya. Serbaliknya, pihak lain memiliki ketergantungan pada pihak pertama, sehingga ia bisa menerima apa yang diajarkan kepadanya.
Saran agar siswa mau berdisiplin :
a.         Sekolah perlu menjelaskan secara konkret tentang pendidikan disiplin yang berlaku disekolah kepada siswa.
b.         Peraturan yang tidak tertulis secara eksplisit pada buku tata tertib perlu disempurnakan.
c.         Guru hendaknya memperhatikan bahwa sanksi dalam pengertian mendidik untuk menegakkan disiplin, bukan mempermalukan siswa didepan temannya.
d.        Tugas kelompok yang memungkinkan siswa untuk saling bekerja sama dapat digunakan guru untuk mengatasi siswanya yang mengalami kesulitan bersosialisasi.
e.         Agar sanksi yang diberikan tidak melanggar HAM, sekolah perlu mensosialisasikan peraturan disiplin beserta sanksi – sanksi jika melanggar disiplin tersebut.
f.          Kegiatan ekstrakulikuler dapat dijadikan sarana untuk melatih disiplin siswa.
g.         Siswa hendaknya dapat meningkatkan disiplin belajarnya dengan menepati jadwal belajar yang telah disusunnya agar kuantitas dan kualitas materi yang dipahami dapat meningkat sehingga prestasi belajarnya pun meningkat.

H.      Konsep Pelaksanaan Disiplin
Macam – macam konsep pelaksanaan disiplin :
a.         Otoritarian. Menurut kacamata konsep ini, peserta didik di sekolah dikatakan mempunyai disiplin tinggi manakala mau duduk tenang sambil memperhatikan uraian guru ketika sedang mengajar. Peserta didik diharuskan mengiyakan saja terhadap apa yang dikehendaki guru, dan tidak boleh membantah.
b.         Permissive. Menurut konsep ini, peserta didik haruslah diberikan kebebasan seluas-luasnya di dalam kelas dan sekolah. Aturan-aturan di sekolah dilonggarkan dan tidak perlu mengikat kepada peserta didik. Peserta didik dibiarkan berbuat apa saja sepanjang itu menurutnya baik.  
c.         Demokratis. Disiplin yang dibangun berdasarkan konsep kebebasan yang terkendali atau kebebasan yang bertanggung jawab. Disiplin demikian, memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk berbuat apa saja, tetapi konsekuensi dari perbuatan itu, haruslah ia tanggung. Karena ia yang menabur, maka ialah yang menuai. Menurut konsep kebebasan terkendali ini, peserta didik memang diberi kebebasan, asal yang bersangkutan tidak menyalahgunakan kebebasan yang diberikan.

Reisman dan Payne (E. Mulyasa, 2003) mengemukakan strategi umum merancang disiplin siswa, yaitu :
a.         Konsep diri; untuk menumbuhkan konsep diri siswa sehingga siswa dapat berperilaku disiplin, guru disarankan untuk bersikap empatik, menerima, hangat dan terbuka;
b.         Keterampilan berkomunikasi; guru terampil berkomunikasi yang efektif sehingga mampu menerima perasaan dan mendorong kepatuhan siswa;
c.         Konsekuensi-konsekuensi logis dan alami; guru disarankan dapat menunjukkan secara tepat perilaku yang salah, sehingga membantu siswa dalam mengatasinya; dan memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari perilaku yang salah;
d.        Klarifikasi nilai; guru membantu siswa dalam menjawab pertanyaannya sendiri tentang nilai-nilai dan membentuk sistem nilainya sendiri;
e.         Analisis transaksional; guru disarankan guru belajar sebagai orang dewasa terutama ketika berhadapan dengan siswa yang menghadapi masalah;
f.          Terapi realitas; sekolah harus berupaya mengurangi kegagalan dan meningkatkan keterlibatan. Guru perlu bersikap positif dan bertanggung jawab; dan
g.         Disiplin yang terintegrasi; metode ini menekankan pengendalian penuh oleh guru untuk mengembangkan dan mempertahankan peraturan; (modifikasi perilaku; perilaku salah disebabkan oleh lingkungan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran perlu diciptakan lingkungan yang kondusif.


I.         Pengaruh Disiplin
Pengaruh penerapan disiplin ini pada anak, meliputi beberapa aspek, misalnya :
1.         Pengaruh pada perilaku
       Anak yang mengalami disiplin yang keras, otoriter, biasanya akan sangat patuh bila dihadapan orang – orang dewasa, namun sangat agresif terhadap teman sebayanya. Sedangkan anak yang orang tuanya lemah akan cenderung mementingkan diri sendiri, tidak menghiraukan hak orang lain, agresif dan tidak sosial. Anak yang dibesarkan dengan disiplin yang demokratis akan lebih mampu belajar mengendalikan perilaku yang salah dan mempertimbangkan hak-hak orang lain.
2.    Pengaruh pada sikap
       Baik anak yang dibesarkan dengan cara disiplin otoriter maupun dengan cara yang lemah, memiliki kecenderungan untuk membenci orang yang berkuasa. Anak yang diperlakukan dengan cara otoriter merasa mendapat perlakuan yang tidak adil. Sedangkan anak yang orang tuanya lemah merasa bahwa orang tua seharusnya memberitahu bahwa tidak semua orang dewasa mau menerima perilakunya. Disiplin yang demokratis akan menyebabkan kemarahan sementara, tetapi kemarahan ini bukanlah kebencian. Sikap-sikap yang terbentuk sebagai akibat dari metode pendidikan anak cenderung menetap dan bersifat umum, tertuju kepada semua orang yang berkuasa.
3.    Pengaruh pada kepribadian
       Semakin banyak anak diberi hukuman fisik, semakin anak menjadi keras kepala dan negativistik. Ini memberi dampak penyesuaian pribadi dan sosial yang buruk, yang juga memberi ciri khas dari anak yang dibesarkan dengan disiplin yang lemah. Bila anak dibesarkan dengan disiplin yang demokratis, ia akan mampu memiliki penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial yang terbaik.


J.        Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Disiplin
Menurut Tu’u (2004:48-49) mengatakan ada empat faktor dominan yang mempengaruhi dan membentuk disiplin yaitu:
a)         Kesadaran diri
       Sebagai pemahaman diri bahwa disiplin penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Selain itu kesadaran diri menjadi motif sangat kuat bagi terwujudnya disiplin. Disiplin yang terbentuk atas kesadaran diri akan kuat pengaruhnya dan akan lebih tahan lama dibandingkan dengan disiplin yang terbentuk karena unsur paksaan atau hukuman.
b)    Pengikutan dan ketaatan
       Sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan-peraturan yang mengatur perilaku individunya. Hal ini sebagai kelanjutan dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh kemampuan dan kemauan diri yang kuat.
c)    Alat pendidikan
       Untuk mempengaruhi, mengubah, membina, dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan.
d)    Hukuman
       Seseorang yang taat pada aturan cenderung disebabkan karena dua hal, yang pertama karena adanya kesadarn diri, kemudian yang kedua karena adanya hukuman. Hukuman akan menyadarkan, mengoreksi, dan meluruskan yang salah, sehingga orang kembali pada perilaku yang sesuai dengan harapan.

Lebih lanjut Tu’u (2004:49-50) menambahkan masih ada faktor  - faktor lain yang berpengaruh dalam pembentukan disiplin yaitu :
a.         Teladan
       Teladan adalah contoh yang baik yang seharusnya ditiru oleh orang lain. Dalam hal ini siswa lebih mudah meniru apa yang mereka lihat sebagai teladan (orang yang dianggap baik dan patut ditiru) daripada dengan apa yang mereka dengar. Karena itu contoh dan teladan disiplin dari atasan, kepala sekolah dan guru-guru serta penata usaha sangat berpengaruh terhadap disiplin para siswa.
b.    Lingkungan berdisiplin
       Lingkungan berdisiplin kuat pengaruhnya dalam pembentukan disiplin dibandingkan dengan lingkungan yang belum menerapkan disiplin. Bila berada di lingkungan yang berdisiplin, seseorang akan terbawa oleh lingkungan tersebut.
c.     Latihan berdisiplin
       Disiplin dapat tercapai dan dibentuk melalui latihan dan kebiasaan. Artinya melakukan disiplin secara berulang-ulang dan membiasakannya dalam praktik-praktik disiplin sehari-hari.

K.      Relevansi Disiplin dengan Ilmu Pendidikan Luar Sekolah
Adapun relevansi antara disiplin dengan ilmu pendidikan luar sekolah yaitu : bahwa dalam pelaksanaaannya disiplin berfungsi sebagai pembangkit motivasi belajar peserta didik/warga belajar terutama masyarakat. Dengan disiplin, masyarakat lebih giat untuk mengikuti proses belajar mengajar. Ilmu pendidikan luar sekolah sebagai media (konsep) sedangkan disiplin lebih pada proses pelaksanaan program.
Disiplin juga yang mengatur proses belajar mengajar agar tertib dan teratur. Namun hal yang perlu diperhatikan sebenarnya dalam konsep pendidikan luar sekolah adalah kedisiplinan yang terjadi diantara dua belah pihak yaitu fasilitator (pengajar) dan masyarakat. Terutama fasilitator, dengan memberikan contoh berdisiplin yang baik masyarakat juga secara otomatis akan mengikuti fasilitator tersebut.

L.       Upaya Pengembangan dan Kemungkinan Implementasi Disiplin Dilapangan
Upaya – upaya pengembangan disiplin dan kemungkinannya yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan (implementasi) disiplin dilapangan diantaranya adalah :
1.         Melalui kegiatan ekstrakulikuler, karena pada dasarnya konsep pelaksanaan kegiatan ini adalah pendidikan luar sekolah (nonformal) karena dilakukan tidak seperti sekolah formal pada umumnya, tidak terbagi berdasarkan kelas (kelas A, B, C, atau D) dan tingkatan (tingkat I, II, III). Kegiatan ekstrakulikuler biasanya dilakukan secara rutin minimal seminggu sekali. Melalui kegiatan inilah fasilitator dapat mengajarkan disiplin pada peserta didik.
2.         Mengembangkan pendidikan penyadaran. Artinya peserta didik disadarkan tentang peranan, tugas, serta tanggung jawabnya sebagai pribadi yang harus menjalani kehidupannya. Dengan disiplin hidp akan jauh lebih teratur dan terarah.
3.         Mengembangkan pemahaman yang berkaitan dengan manfaat disiplin bagi kehidupan pribadi serta manfaatnya untuk orang lain.
4.         Latihan pembiasaan. Tidak perlu menggunakan kekerasan namun tetap tegas. Karena dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.
5.         Mengembangkan modeling atau contoh tokoh (orang yang dapat dijadikan panutan), sehingga lebih memacu minat peserta didik/masyarakat untuk melaksanakan disiplin.
6.         Fasilitator memahami dan menghargai pribadi peserta didik (masyarakat) dan tidak perlu memaksakan kehendak kepada mereka.
7.         Sosialisasi tentang pentingnya disiplin serta manfaatnya bagi diri pribadi peserta didik/warga belajar dan orang yang disekita mereka.
8.         Melalui kegiatan pelatihan kepemimpinan. Dengan terbiasa bertindak sebagai pemimpin maka seseorang itu akan selalu melaksanakan disiplin dan menerapkannya pada orang lain.
9.         Melalui kegiatan yang dapat membangun karakter/kepribadian. Membangun karakter/kepribadian dalam hal ini adalah dengan membangkitkan sikap percaya diri dalam diri sesorang agar lebih paham tentang dirinya sendiri. Ia diberikan penjelasan ataupu si fasilitator menggali dan mengungkap kelebihan ataupun semua potensi yang terdapat dalam diri peserta didik/warga belajar tersebut.
M.     Kendala yang Dihadapi
Kendala yang dihadapi saat pelaksanaan disiplin dilapangan adalah :
1.      Karakteristik peserta didik yang berbeda – beda. Pendidikan luar sekolah menangani peserta didik dari mulai tinggal usia dini sampai dengan yang sudah tua sekalipun. Semakin tua (dewasa) usia seseorang maka akan semakin sulit menerapkan disiplin. Misalnya saja kakek – kakek ataupun nenek – nenek, mereka sangat sulit diatur karena pada dasarnya orang tua (dewasa) itu tidak mau di manage atau diatur. Menurut mereka, mereka dapat mengatur kehidupan sendiri tanpa campur tangan orang lain.
2.      Sulitnya menyamakan persepsi (sudut pandang) antara fasilitator dengan peserta didik/warga belajar tentang pentingnya disiplin bagi kehidupan diri sendiri dan orang lain.
3.      Kurangnya pemahaman peserta didik/warga tentang arti penting disiplin serta manfaat disiplin itu sendiri.
4.      Kurangnya kesadaran dari pihak fasilitator maupun peserta didik/warga belajar. Jika tiadak adanya kesadaran yang muncul dalam diri pribadi akan sulit untuk melaksanakan disiplin.
5.      Keadaan/kondisi fisik dan lingkungan individu itu sendiri, yang menuntut mereka untuk melanggar ataupun tidak melaksanakan disiplin.
6.      Waktu yang tidak efektif/tidak tepat dalam melaksanakan disiplin.
7.      Terbatasnya kemampuan peserta didik untuk melaksanakan disiplin. Dikarenakan ada hal lain yang lebih penting dan mutlak harus dilakukan.
8.      Terbatasnya tenaga yang dapat mendukung terwujudnya displin.
9.      Kurang tahu atau kurang kepedulian diantara kedua belah pihak (fasilitator maupun peserta didik) tentang norma atau aturan yang berlaku.
10.  Semakin menjauhnya peserta didik/warga belajar dari sikap disiplin, karena sikap fasilitator yang terlalu memaksa mereka untuk menjadi apa yang diinginkannya.
11.  Faktor yang datang dari luar diri individu itu sendiri, yaitu adanya ancaman dari pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab ataupun tidak mau berdisiplin.
N.      Solusi dalam Menghadapi Kendala Dilapangan
Solusi yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah/kendala yang dihadapi dilapangan adalah :
1.      Pahami terlebih dahulu karakteristik peserta didik/warga belajar. Apa yang tidak ia suka dan yang ia suka.
2.      Berikan contoh atau teladan yang dapat membangkitkan motivasi peserta didik/warga belajar untuk berdisiplin.
3.      Sosialisasikan manfaat disiplin itu sendiri kepada peserta didik/warga belajar.
4.      Memahami waktu atau kondisi peserta didik/warga belajar. Memahami waktu artinya memberikan kesempatan kepada peserta didik/warga belajar untuk melaksanakan tugasnya diluar program. Tetapi tetap menegaskan kepadanya untuk tetap melaksanakan disiplin sesuai dengan batas kemampuannya.
5.      Menambah jumlah fasilitator yang dapat membantu atau mendukung tegaknya disiplin.
6.      Memberikan kenyamanan kepada peserta didik/warga belajar dalam melaksanakan disiplin. Artinya sedapat mungkin menghindari terjadinya pemaksaan dan kekerasan.

Referensi :
Susanto, Eko. (2009). Disiplin Penting dalam Proses. [Online]. Tersedia : http://www.cantiknya-ilmu.co.cc/2009/11/disiplin-penting-dalam-proses.html.

2 komentar: