Semangat! Man jadda Wa Jadaa!!

Rabu, 11 April 2012

Da'wah untuk Menghadapi Dekadensi Moral serta Implementasinya terhadap Pendidikan Luar Sekolah

(disampaikan dalam mata kuliah Seminar Pendidikan Agama Islam)
Pengertian Da’wah
Pengertian da’wah bagi kalangan awam disalahartikan dengan pengertian yang sempit terbatas pada ceramah, khutbah atau pengajian saja. Pengertian da’wah bisa kita lihat dari segi bahasa dan istilah. Secara bahasa kata da’wah berasal dari bahasa Arab “Da’wah”. Kata kerjanya “da’aa” yang berarti memanggil, mengundang atau mengajak. Sedangkan secara istilah :
1)     Da’wah adalah perintah mengadakan seruan kepada sesama manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik (Aboebakar Atjeh, 1971:6).
2)          Da’wah adalah menyeru manusia kepada kebajikan dan petunjuk serta menyuruh kepada kebajikan dan melarang kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat (Syekh Muhammad Al-Khadir Husain).
3)   Da’wah adalah menyampaikan dan mengajarkan agama Islam kepada seluruh manusia dan mempraktikkannya dalam kehidupan nyata (M. Abul Fath al-Bayanuni).
4)     Da’wah adalah suatu aktifitas yang mendorong manusia memeluk agama Islam melalui cara yang bijaksana, dengan materi ajaran Islam, agar mereka mendapatkan kesejahteraan kini (dunia) dan kebahagiaan nanti (akhirat) (A. Masykur Amin).

Kesimpulannya da’wah adalah kegiatan atau usaha memanggil orang muslim mau pun non-muslim, dengan cara bijaksana, kepada Islam sebagai jalan yang benar, melalui penyampaian ajaran Islam untuk dipraktekkan dalam kehidupan nyata agar bisa hidup damai di dunia dan bahagia di akhirat.

Kewajiban Berda’wah
Berda’wah hukumnya wajib. Ayat-ayat yang mengandung perintah untuk berda’wah :
a.         Q.S. An-Nahl 125
 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

b.        Q.S. Ali Imran 104
dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

c.         Al-Haj 67
 bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, Maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.

d.        Al-Qashash 87
 dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.

e.         Al-Maidah 67
Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

f.         Ali Imran 110
 kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Prinsip Berda’wah
Menurut Yusuf Qardhawi, prinsip berda’wah adalah :
a.         Da’wah untuk Membebaskan Manusia dari Penyembahan kepada Manusia
Prinsip ini menurut  Qardhawi  sebagai prinsip tauhid murni yang melawan segala macam  bentuk perbuatan syirik. Pendidikan da’wah dalam hal ini harus membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesamanya, termasuk juga penghambaan terhadap benda-benda yang bersifat ilusi atau dzat benda-benda.
b.        Da’wah untuk Persaudaraan dan Persamaan Manusia
Menurut Qardhawi persaudaraan adalah buah dari tauhid yang diserukan oleh Islam dan konsekuensinya adalah persamaan manusia.  Persaudaraan itu dibangun dalam beberapa hal : Pertama kedudukan manusia sebagai hamba Allah yang telah menciptakan mereka adalah sama dihadapan-Nya. Kedua; sebagai anak Adam, meskipun berbeda kulit, warna, adat istiadat dan budaya pada hakekatnya tidak ada perbedaan diantara mereka yaitu sama-sama dari Adam. Ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW pada saat haji wada bahwa tidak ada perbedaan antara  Arab dan bukan Arab. Taqwa-lah yang membedakan mereka.
c.         Da’wah untuk Keadilan Seluruh Umat Manusia
Qardhawi berpandangan di antara seruan Islam untuk kebaikan umat  manusia adalah: menegakkan keadilan antara sesama manusia. Keadilan bukanlah bagi orang Arab saja, keadilan Isalam bersifat syumul (menyeluruh) ayat Al-Quran yang memerintahkan mansusia untuk berbuat adil di antaranya adalah Q.S. Al-Hadid : 25, dan Q.S An-Nisa : 58. Menurutnya terdapat sembilan ayat dalam surat An-Nisa sebagai teguran kepada Rasulullah ketika ingin membela sekelompok umat Islam yang lemah atau kaum munafik yang menuduh seorang Yahudi berbuat suatu kedzaliman dengan mencuri. Teguran tersebut terdapat dalam ayat 105 – 114.
d.        Da’wah untuk Perdamaian Dunia
Sebagai agama yang cinta damai, jihad merupakan bagian dari dakwah Islamiyah. Prihal jihad dengan pedang yang sering dijadikan perisai untuk menghantam umat Islam sebagai agama yang menyukai kekerasan oleh orang luar. Menurut Qardhawi jihad yang sesungguhnya di dalam Islam adalah hanyalah untuk membela da’wah, jika dimusuhi atau pemeluk da’wah disiksa dan difitnah. Jihad dilakukan untuk orang yang memerangi Islam, jidad dilakukan untuk membela orang-orang yang lemah. Memberikan pelajaran kepada orang-orang yang menghianati. Jihad menurut Qardhawi tidak disyariatkan untuk permusuhan atau pelanggaran terhadap orang-orang yang berdamai yang tidak berdosa. Dalam hal ini Al-Qur’an telah jelas hanya mengizinkan berjihad untuk membela diri dari orang-orang dzalim (Q.S. Al-Hajj 39-40).

Tujuan Berda’wah
Tujuan da’wah Islam adalah “merubah keadaan yang tidak Islami menjadi Islami agar dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT”.
Adapun secara rinci tujuan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
a.         Menyeru orang kafir agar masuk Islam
b.        Menyeru kepada orang Islam agar melaksanakan hukum Islam secara total.
c.         Menegakkan kema’rufan dan mencegah kemunkaran, yang meliputi semua bentuk kema’rufan dan semua bentuk kemunkaran. Baik kemungkaran yang dilakukan oleh pribadi, kelompok, maupun masyarakat serta negara. Juga meliputi kema’rufan yang diserukan kepada pribadi, kelompok, maupun negara.

Subjek, Objek, dan Materi Da’wah
a.         Subjek Da’wah
Orang yang melaksanakan da’wah Islam adalah orang Islam, baligh dan berakal. Apakah laki-laki, ataukah perempuan, semuanya sama saja, semua wajib memikul kewajiban dakwah, baik secara pribadi maupun berjamaah.
b.        Objek Da’wah
Obyek da’wah ialah sasaran, penerima, khalayak, jamaah, pembaca, pendengar, pemirsa, audience, decorder atau komunikan yang menerima da’wah (Islam). Adapun sasaran da’wah yang dimaksudkan adalah :
1)    Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi sosiologis, misalnya masyarakat terasing, pedesaan, kota besar dan kecil, serta masyarakat di daerah.
2)   Sasaran yang menyangkut golongan masyarakat dilihat dari segi struktur kelembagaan berupa masyarakat, pemerintah, dan keluarga.
3)   Sasaran yang berupa kelompok-kelompok masyarakat dilihat dari segi sosial kultural, seperti golongan priyayi, abangan dan santri, khususnya pada masyarakat Jawa.
4)   Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari segi tingkat usia, seperti golongan anak-anak, remaja dan orang tua.
5)     Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari segi profesi atau pekerjaan, seperti golongan petani, pedagang, seniman, buruh, pegawai negeri dan lain-lain.
6)      Sasaran yang menyangkut golongan masyarakat dilihat dari segi tingkat hidup sosial ekonomi seperti golongan orang kaya, menengah dan miskin.
7)        Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi jenis kelamin seperti laki-laki dan perempuan.
8)        Sasaran yang berhubungan dengan golongan dilihat dari segi khusus, seperti golongan masyarakat tuna susila, tuna wisma, tuna karya, narapidana dan sebagainya.
c.         Materi Da’wah
Materi da’wah adalah pesan-pesan atau segala sesuatu yang harus disampaikan oleh subyek kepada obyek da’wah, keseluruhan ajaran Islam, yang ada di dalam Kitabullah maupun sunnah Rasul-Nya, yaitu :
1)  Aqidah, yang menyangkut sistem keimanan/kepercayaan terhadap Allah swt. dan ini menjadi landasan yang fundamental dalam keseluruhan aktivitas seorang muslim, baik yang menyangkut sikap mental maupun sikap lakunya dan sifat-sifat yang dimiliki.
2)    Syariat, yaitu rangkaian ajaran yang menyangkut aktivitas manusia muslim di dalam semua aspek hidup dan kehidupannya, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh, mana yang halal dan haram, mana yang mubah dan sebagainya. Dan ini juga menyangkut hubungan manusia dengan sesamanya (hablun minallah dan hablun minannas).
3)     Akhlaq, yaitu menyangkut tata cara berhubungan baik secara vertikal dengan Allah swt. maupun secara horizontal dengan sesama manusia dan seluruh makhluk-makhluk Allah.

Strategi Berda’wah
Menurut Kuntowijoyo (dalam makalah Sutarto), strategi da’wah dibagi menjadi 2 tingkatan masyarakat, yaitu masyarakat kota dan masyarakat desa :
a.   Dialog da’wah pada masyarakat kota menurut Kuntowijoyo dilakukan melalui upaya bagaimana memajukan sufisme dalam pendekatan dakwah untuk memberi jalan tumbuhnya psikologi Islami. Hal ini untuk menandingi derasnya aliran kebatinan atau aliran kepercayaan yang menjadikan orang kota merasa hilang di tengah-tengah dunia modern dan di tengah era industrialisasi dan informasi.
b.       Sedangkan dialog da’wah pada masyarakat desa, masih menurut Kunto dilakukan dengan pendekatan etis, yakni mencoba merangsang masyarakat untuk maju dan bersedia menilai mana yang tidak baik kemudian dihilangkan serta mencoba membangun sesuatu yang baik. Dalam masalah transformasi sosial budaya di desa, dengan da’wah berusaha mengubah kondisi masyarakat yang sebelumnya menyembah Allah beserta sesembahan lainnya kepada tauhid yang murni. Dari suasana miskin ke kehidupan yang lebih berharkat dan berharga diri. Dari yang timpang sosial ekonomi ke arah keadilan sosial. Jadi da’wah di sini berarti merupakan   proses dalam rangka memfasilitasi terwujudnya bangunan-bangunan sosial di mana Islam memihak kepada nilai-nilai tersebut.
Quraish Shihab dalam menyoroti strategi da’wah senada dengan gagasan Kuntowijoyo yakni strategi da’wah untuk masyarakat perkotaan dan masyarakat pinggiran dan pedesaan. Menurut pendapatnya bahwa da’wah di perkotaan harus didukung uraian-uraian ilmiah dan logis serta menyentuh hati dan menyejukkannya. Sebab masyarakat perkotaan banyak terdiri dari ilmuwan dari berbagai disiplin serta usahawan-usahawan yang sukses sekaligus haus ketenangan batin. Sedangkan da’wah untuk masyarakat pinggiran dan pedesaan dengan dakwah bil hal atau “dakwah pembangunan”,  sebab masyarakat ini perlu mendapat sentuhan bidang-bidang kehidupan yang nyata khususnya bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Jenis – jenis Da’wah
Da’wah dapat dilakukan dengan berbagai cara, sesuai dengan kemampuan masing-masing juru da’wah. Setiap Muslim wajib melaksanakannya karena seorang Muslim berkewajiban menyebarkan kebenaran Islam kepada orang lain.
a.         Da’wah FardiahDa’wah Fardiah merupakan metode da’wah yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas. Biasanya da’wah fardiah terjadi tanpa persiapan yang matang dan tersusun secara tertib. Termasuk kategori da’wah seperti ini adalah menasihati teman sekerja, teguran, anjuran memberi contoh. Termasuk dalam hal ini pada saat mengunjungi orang sakit, pada waktu ada acara tahniah (ucapan selamat), dan pada waktu upacara kelahiran (tasmiyah).
b.        Da’wah AmmahDa’wah Ammah merupakan jenis da’wah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka. Media yang dipakai biasanya berbentuk khotbah (pidato). Da’wah Ammah ini kalau ditinjau dari segi subyeknya, ada yang dilakukan oleh perorangan dan ada yang dilakukan oleh organisasi tertentu yang berkecimpung dalam soal-soal da’wah.
c.         Da’wah bil-Lisan — Da’wah jenis ini adalah penyampaian informasi atau pesan da’wah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subyek dan obyek da’wah). Da’wah jenis ini akan menjadi efektif bila disampaikan berkaitan dengan hari ibadah, seperti khutbah Jum’at atau khutbah hari Raya, kajian yang disampaikan menyangkut ibadah praktis, konteks sajian terprogram, disampaikan dengan metode dialog dengan hadirin.
d.        Da’wah bil-HaalDa’wah bil-Haal adalah da’wah yang mengedepankan perbuatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar si penerima da’wah (Al-Mad’ulah) mengikuti jejak dan hal ikhwal si Da’i (juru da’wah). Da’wah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima da’wah. Pada saat pertama kali Rasulullah Saw tiba di kota Madinah, beliau mencontohkan Da’wah bil-Haal ini dengan mendirikan Masjid Quba dan mempersatukan kaum Anshor dan kaum Muhajirin dalam ikatan ukhuwah Islamiyah.
e.         Da’wah bit-Tadwin — Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola da’wah bit at-Tadwin (da’wah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan da’wah sangat penting dan efektif. Keuntungan lain dari da’wah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang da’i, atau penulisnya sudah wafat. Menyangkut da’wah bit-Tadwim ini Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada”.
f.         Da’wah bil HikmahDa’wah bil Hikmah Yakni menyampaikan da’wah dengan cara yang arif atau bijak, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek da’wah mampu melaksanakan da’wah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan kata lain da’wah bil Hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi da’wah yang dilakukan atas dasar persuasif.

Dekadensi Moral
Pengertian
Dekadensi berasal dari kata dekaden yang berarti “keadaan merosot dan mundur”. Contoh Dekadensi Moral :
a)        Tawuran
b)        Miras dan Narkoba
c)        Pergaulan Bebas (pornografi dan pornoaksi)

Penyebab Dekadensi Moral
1)        Sikap hidup yang materialistik
Munculnya orientasi hidup yang bersifat materialistik dan sekularistik dinilai menjadi penyebab utama terjadinya dekadensi moral di tengah masyarakat (dalam blog Bataviase).
2)        Kurangnya kesadaran agama orang tua
Orang tua (keluarga) adalah tempat pertama dimana akhlak dan moral anak terbentuk. Oleh karenanya pemahaman orang tua terhadap agama sangatlah diperlukan.
3)        Mengerjakan kemungkaran di hadapan anak dan membawa kebiasaan buruk ke dalam rumah
4)        Pengaruh pergaulan (lingkungan)
Pergaulan yang kurang baik dapat menyebabkan penurunan moral seseorang. Karena umumnya orang akan cenderung meniru apa yang ia lihat di lapangan.
5)        Pengaruh budaya barat terhadap 4 F (Film, Food, Fashion, Fun)
Hal ini mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan seseorang. Budaya inilah yang dapat mempengaruhi pemikiran seseorang (Ghazwul Fiqr/perang pemikiran).


Peran Da’wah dalam Menghadapi Dekadensi Moral
Sebenarnya da’wah itu sendiri adalah komunikasi. Da’wah tanpa komunikasi tidak akan mampu berjalan menuju target-target yang diinginkan, demikian komunikasi tanpa da’wah akan kehilangan nilai-nilai Ilahi dalam kehidupan. Dengan demikian da’wah memiliki dua peran yang saling terkait, yaitu da’wah sebagai proses komunikasi dan proses perubahan sosial. Sedangkan da’wah sebagai proses perubahan sosial, ia berperan dalam upaya perubahan nilai dalam masyarakat, sesuai dengan tujuan-tujuan da’wah Islam. Sebab da’wah pada hakikatnya adalah aktualisasi imani yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman, dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur, untuk mempengaruhi cara merasa, berfikir, bersikap dan bertindak manusia, pada dataran kenyataan individual dan sosio-kultural, dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran Islam dalam semua segi kehidupan manusia dengan menggunakan cara tertentu.
Didalam memerankan perubahan sosial tersebut, da’wah tidak hanya merupakan upaya yang terbatas pada tabligh (penyampaian) atau upaya tau’iyah (penyadaran) saja, tetapi da’wah juga merupakan upaya-upaya yang bersifat lebih sistematis dalam kegiatan yang dapat menopang da’wah dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya. Upaya memberikan arahan dan bimbingan kepada masyarakat, agar masyarakat tidak terjebak dalam ranjau-ranjau kesesatan yang sengaja dibuat oleh musuh-musuh islam, serta agar masyarakat mampu memperbaiki diri akibat dekadensi moral, dan agar masyarakat juga senantiasa terarah dan terbimbing dalam menghadapi tantangan, hambatan dalam kehidupan, sehingga tidak dengan mudah tergoda oleh ‘iming-iming’ menggiurkan yang berisi tipuan belaka, atau tidak pesimis dan frustasi lantaran beratnya problematika hidup yang dihadapi.
     Upaya aplikatif lain bagi da’wah dalam memerankan perubahan sosial adalah upaya himayah (advokasi), yaitu memberikan perlindungan, baik terhadap nilai-nilai ajaran da’wah itu sendiri, maupun terhadap kehidupan masyarakat pada umumnya dalam menghadapi bentuk-bentuk kezhaliman. Semua upaya tersebut tersurat dalam firman Allah SWT : “Inilah jalanku dan jalan pengikutku, terus berda’wah kepada Allah atas dasar bashirah..” (QS. Yusuf: 108). “Dan ini jalanku yang lurus, ikutilah, jangan ikuti jalan-jalan lain maka kalian akan bercerai berai dari jalannya, demikianlah yang Allah wasiatkan kepada kalian” (QS. al-An’am: 153). Dengan begitu, peran da’wah memang sangat besar untuk menghadapi dekadensi moral yang dialami oleh masyarakat muslim.

Implementasi Da’wah terhadap Pendidikan Luar Sekolah dalam Menghadapi Dekadensi Moral
Untuk menangkal dampak negatif globalisasi, diperlukan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan pendidikan dan dakwah yang diimplikasikan dengan membangun pendidikan sekolah, madrasah yang berkualitas, meningkatkan syi’ar dakwah ke pelosok-pelosok dan pedalaman.
Dalam hal ini Pendidikan Luar Sekolah memegang peranan yang sangat penting. Pada dasarnya PLS merupakan Pendidikan berbasis masyarakat, yang bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat. Dengan memanfaatkan salah satu wadah untuk berda’wah yakni majelis ta’lim, diharapkan dapat menghadapi perubahan zaman yang menyebabkan dekadensi moral. Semua program PLS memuat program tentang keagaamaan sebagai bekal bagi masyarakat untuk menghadapi dekadensi moral.

Referensi :
                  . (2008). Peran Dakwah Komunikasi dan Perubahan. [Online]. Tersedia : http://www.ikadi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=124:peran-dakwah-komunikasi-dan-perubahan&catid=39:fiqh-dakwah&Itemid=67

                  . (2010). Pengertian Dakwah. [Online]. Tersedia : http://msibki3.blogspot.com/2010/03/pengertian-dakwah.html

                  . (2010). Kewajiban Berdakwah. [Online]. Tersedia : http://msibki3.blogspot.com/2010/03/kewajiban-berdakwah.html

Abied. (2010). Konsep Dasar Stretegi Dakwah. [Online]. Tersedia : http://www.masbied.com/2009/10/30/konsep-dasar-strategi-dakwah/
Anakunhas. (2011). Pengertian Dekadensi Moral. [Online]. Tersedia : http://www.anakunhas.com/2011/04/pengertian-dekadensi-moral.html
Anne. (          ). Mengenal Macam – macam Dakwah dalam Islam. [Online]. Tersedia : www.anneahira.com/macam-macam-dakwah.htm
Habibi, Ujang & Enjang Jamhuri. (2010). Pendidikan dan Dakwah dalam Perspektif Yusuf Al-qardhawi. [Online]. Tersedia : http://stidnatsir.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=135:pendidikan-dan-dakwah-dalam-perspektif-yusuf-al-qardhawi&catid=29:artikel&Itemid=86
Nunu. (2008). Pemuda dan Dekadensi Moral. [Online]. Tersedia : http://nu2jelajah.wordpress.com/2008/10/31/pemuda-dan-dekadensi-moral/

Pelita. (2009) . Sikap Hidup Materialistik Penyebab Utama Dekadensi Moral. [Online]. Tersedia : http://bataviase.co.id/detailberita-10385441.html

PUSDAI. (2008). Makna dan Cara Dakwah. [Online]. Tersedia : http://pusdai.wordpress.com/2008/08/07/makna-dan-cara-dakwah/

3 komentar:

  1. Thanks for the update you have nicely mega888 apk 2019 covered this topic. keep it up

    BalasHapus
  2. Thank you for the Online Game Malaysia helpful post. I found your blog with Google and I will start following. Hope to see new blogs soon.

    BalasHapus
  3. can someone tell me how to get the little 918kiss download ios avatars to appear in my comments section? thanks!

    BalasHapus